• SMP NEGERI 14 KABUPATEN TEBO
  • Mencetak generasi Berilmu dan Bertaqwa

Sebuah cuplikan

Children Learn What They Live
 
If children live with criticism, they learn to condemn.
If children live with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive.
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.
If children live with ridicule, they learn to feel shy.
If children live with jealousy, they learn to feel envy.
If children live with shame, they learn to feel guilty.
If children live with encouragement, they learn confidence.
If children live with tolerance, they learn patience.
If children live with praise, they learn appreciation.
If children live with acceptance, they learn to love.
If children live with approval, they learn to like themselves.
If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.
If children live with sharing, they learn generosity.
If children live with honesty, they learn truthfulness.
If children live with fairness, they learn justice.
If children live with kindness and consideration, they learn respect.
If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.
If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.
 
Translate :
 
Anak-anak Belajar dari Kehidupannya
 
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
 
Pengembangan :
 
Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela, 
kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain.
Jika anak terbiasa hidup dalam permusuhan, 
kelak ia akan terbiasa menentang dan melawan
Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan,
kelak ia akan terbiasa merasa resah dan cemas.
Jika anak biasa hidup dikasihani,
kelak ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri.
 
Jika anak biasa hidup diolok-olok,
kelak ia akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan iri,
kelak ia akan terbiasa merasa bersalah. 
 
Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami,
kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan,
kelak ia akan terbiasa percaya diri. 
 
Jika anak biasa hidup banyak dipuji,
kelak ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan,
kelak ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri. 
 
Jika anak biasa hidup mendapatkan pengakuan dari kiri kanan,
kelak ia akan terbiasa menetapkan sasaran langkahnya.
Jika anak biasa hidup jujur,
kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran. 
 
Jika anak biasa hidup diperlakukan adil,
kelak ia akan terbiasa dengan keadilan.
Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman,
kelak ia akan terbiasa percaya diri dan mempercayai orang-orang di sekitarnya.
Jika anak biasa hidup di tengah keramahtamahan,
kelak ia akan terbiasa berpendirian : “Sungguh indah dunia ini !”
 
 
(Dorothy Law Nolte)
 
Anak-anak Belajar Dari Apa Yang Mereka Alami
 
Bila anak hidup dengan kritikan,
Ia belajar untuk mengutuk.
Bila anak hidup dengan permusuhan,
Ia belajar untuk melawan.
Bila anak hidup dengan ejekan,
Ia belajar menjadi pemalu.
Bila anak hidup dengan rasa malu,
Ia belajar untuk merasa bersalah
 
Bila anak hidup dengan toleransi,
Ia belajar menjadi sabar.
Bila anak hidup dengan penuh dukungan,
Ia belajar untuk percaya diri.
Bila anak hidup dengan keadilan,
Ia belajar menjadi adil.
 
Bila anak hidup dengan rasa aman,
Ia belajar untuk mempunyai keyakinan.
Bila anak hidup dengan pengakuan,
Ia belajar untuk menyukai dirinya.
Bila anak hidup dengan kejujuran,
Ia belajar kebenaran.
Bila anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Ia belajar menemukan rasa kasih sayang di dunia.

Tentang Dorothy

Dorothy Law Nolte, Ph.D, penulis puisi pendidikan ini, adalah seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise. Dalam kebudayaan Barat pada umumnya, bila seorang perempuan menikah maka ia akan menggunakan nama belakang dari nama keluarga sang suami.
 
Nah, dalam kasus Dorothy, Law adalah nama keluarga dari suami pertamanya, Durwood Law. Sementara itu, Nolte adalah nama keluarga dari suami kedua, Claude Nolte. Untuk ukuran Amerika, memakai nama keluarga milik suami pertama dan kedua sekaligus seperti ini sebenarnya kurang lazim. Tapi begitulah mungkin cara Dorothy mempertahankan kejelasan sejarah hidupnya.
 
Puisi tulisan Dorothy itu, setelah kemunculan pertamanya di koran pada tahun 1954, menjadi sangat terkenal dan direproduksi di mana-mana. Yang paling spektakuler adalah ketika salah satu divisi Abbott Laboratories, Inc., sebuah perusahaan multinasional, mencantumkan puisi itu (serta 10 macam terjemahannya untuk 10 negara tujuan pemasaran yang berbeda) di kemasan produk nutrisi bayi yang terdistribusikan di seluruh dunia tanpa memberi royalti apa-apa kepada penulisnya. Dorothy sendiri baru mengurus hak intelektual atas puisi itu tahun 1972 namun tetap mengizinkan Abbott untuk terus menggunakan puisi itu secara cuma-cuma.
 
Dalam sejarahnya, puisi ini sempat direvisi dua kali oleh penulisnya. Pertama, pada awal tahun 1980-an, Dorothy mengubah pronomina tunggal menjadi jamak agar netral, karena bahasa Inggris termasuk bahasa yang berjender (membedakan nomina-pronomina feminin dan maskulin). Pada awalnya, nomina “anak” dan pronominanya dalam puisi ini berbentuk tunggal: “If a child lives with ..., he learns ....” Untuk menetralisir isu gender dalam puisi itu, kemudian digantilah pronomina untuk proposisi dasar puisi itu secara keseluruhan menjadi plural (jamak): “If children live with ..., they learn ... .” (Catatan: Dalam hal sensitivitas gender ini, bahasa Indonesia telah jauh lebih maju)
Perubahan kedua adalah dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks menjadi dua baris, serta menambahkan baris baru seiring perkembangan yang membawa situasi-situasi baru yang perlu direspons. Demikianlah, puisi yang awalnya terdiri dari 14 baris itu kini menjadi 19 baris.
Pada tahun 1998 Dorothy menjabarkan puisi itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 19 bab (sesuai jumlah baris dalam puisi). Buku ini ditulis bersama Rachel Harris, dan diberi judul Children Learn What They Live: parenting to inspire values, diterbitkan oleh Workman Publishing Company, New York. Buku ini diberi kata pengantar oleh penulis buku Chicken Soup for the Soul, Jack Canfield, yang –menurut pengakuannya sendiri– ternyata sangat dipengaruhi oleh puisi Dorothy ini.
 
 

Komentari Tulisan Ini